Kampung Naga01

KAMPUNG NAGA, TASIKMALAYA DALAM MITOLOGI: UPAYA MEMAKNAI WARISAN BUDAYA SUNDA

Oleh : Etty Saringendyanti

PENDAHULUAN

Warisan budaya bangsa Indonesia, yang tertuang dalam berbagai bentuk baik berupa artefak (tangible) maupun tradisi (intangible) yang terungkap dalam masyarakat adat sudah selayaknya diapresiasi oleh peneliti lokal agar lebih mampu menghayati makna warisan budaya tersebut. Bagaimanapun, warisan budaya memiliki daya tarik sebagai komoditi wisaya budaya atau heritage tourism.

Pemberian makna kepada berbagai bentuk warisan budaya adalah suatu upaya pemahaman terhadap bagaimana masyarakat masa lalu memandang dan memperlakukan tradisi leluhur.

Dalam teori kebudayaan yang menyatakan bahwa kebudayaan itu berada di antara warga masyarakat, merupakan pandangan semiotika.

Benda-benda hasil kebudayaan dan acuannya berada di luar interpretan (interpretant) atau “pembaca”. Semiotika dalam arkeologi merupakan salah satu kajian arkeologi kognitif, yang mengkaji sistem simbol dari suatu masyarakat melalui artefak.

Salah satu warisan budaya Sunda, yang tersimpan dalam pemukiman adat di Tatar Sunda adalah Kampung Naga di desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Dari latar belakang sejarahnya, masyarakat adat Kampung Naga mengaku keturunan dari Eyang Singaparna, pewaris terakhir tahta Kerajaan Galunggung yang beragama Islam.

Namun bila dilihat dari tata cara mereka melakukan ritual agama, yang lebih sarat dengan kehindu-budhaannya, dan seni tradisi yang masih berkembang di kampung itu, sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Paling sedikit dalam dua kontribusi penelitian, yaitu :

1. Sebagai referensi bagi peneliti lain dalam menafsirkan sistem simbol, khususnya pengkajian mitologi pada masyarakat Sunda di wilayah lain;

2. Pengembangan studi arkeologi, terutama agar tidak lagi terpaku pada karya arkeologi yang bersifat konvensional, melainkan juga kajian-kajian lain yang cukup menentukan perjalanan budaya bangsa Indonesia.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini mengacu pada penelitian arkeologi, khususnya arkeologi kognitif. Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari masa lampau dengan tujuan untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan, merekonstruksi cara hidup manusia, dan merekonstruksi proses budaya. Sementara arkeologi kognitif adalah cabang disiplin arkeologi yang berusaha mempelajari dan menggunakan sistem simbol untuk menangani masalah-masalah arkeologi.
Untuk mencapai tujuan itu, da lam implementasi di lapangan, arkeologi menggunakan berbagai tahapan dimulai dari observasi, deskripsi dan akhirnya eksplanasi. Observasi merupakan proses pencarian dan pengumpulan data, baik data tertulis maupun data lapangan yang berkaitan dengan objek penelitian. Pengumpulan data tertulis dilakukan pada sejumlah sumber tertulis, baik primer maupun sekunder, berupa arsip, artikel, dan buku-buku. Data lapangan diperoleh melalui survei di Kampung Naga, berupa perekaman mitologi dan tata ruang Kampung Naga melalui pendekatan terhadap masyarakat adat Kampung Naga. Sumber-sumber yang dikumpulkan itu, diidentifikasi dan diolah melalui tahapan deskripsi. Dalam kajian arkeologi kognitif penelitian dilakukan melalui pola penalaran induktif yang menghasilkan gambaran adanya kemungkinan persamaan antara gejala budaya masa lampau dengan budaya masa kini. Artefak yang bertahan hingga kini merupakan tanda dari acuan yang berasal dari masa lalu. Hubungan antara tanda dengan acuannya membentuk tiga sifat, yaitu Natural yang melahirkan tanda indeks (index); Formal yang melahirkan tanda ikon (icon); Arbitrary yang melahirkan tanda simbol (symbol).6 Acuan dapat berupa konsep, nliai-nilai, kepercayaan, dan lain-lain yang berkembang dan dikenali di tengah masyarakat pembuat tanda tersebut. Oleh karena itu, suatu artefak dapat berupa tanda indeks, ikon, atau simbol, tergantung dari sifat hubungan antara tanda dengan referennya. Tahapan terakhir yang dilakukan adalah eksplanasi, berwujud rekonstruksi budaya masyarakat Kampung Naga dari masa ke masa.

HASIL DAN PEMBAHASAN KAMPUNG NAGA

Kampung Naga terletak di sebuah lembah yang subur. Berada pada ketinggian + 1.200 m. dapl., di pinggiran Sungai Ciwulan yang mata airnya bersumber dari Gunung Cikuray.

Secara administratif, Kampung Naga termasuk ke dalam wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Untuk sampai ke Kampung Naga, perjalanan dapat ditempuh langsung dari Bandung atau transit di Garut, sejauh lebih kurang 106 km dari Bandung atau sekitar 26 km dari kota Garut, tepat di Kampung Rancak (Salawu).

Selain itu, dapat pula ditempuh melalui rute Tasikmalaya – Garut, dengan jarak tempuh sekitar 30 km. hingga ke Kampung Rancak (Salawu) tadi.

Di kampung inilah Dinas Pariwisata Tasikmalaya mendirkian gapura selamat datang, lahan parker wisatawan, dan pusat informasi wisata, serta sejumlah bangunan tambahan. Lalu melalui tangga di sisi barat area ini, pengunjung meneruskan perjalanan menuju Kampung Naga sejauh sekitar 800 – 900 meter lagi dengan berjalan kaki .
Pertama-tama menuruni jalan kecil yang berbelok-belok hingga ke tepian Sungai Ciwulan. Jalan kecil ini merupakan jalanan semen yang dibuat berundak dengan anak tangga (Sunda: sengked) sebanyak 335 buah anak tangga dengan kemiringan + 450. Kemudian melalui sebuah jembatan dari anyaman bambu menyeberangi sungai dan kembali menyusuri tepi an Sungai Ciwulan hingga ke bagian depan kampung.

Mata pencaharian utama penduduk Kampung Naga adalah bertani sistem tadah hujan atau irigasi dari air pegunungan. Lahan pertanian masih diolah dengan cara dan peralatan tradisional, dicangkul, diguru, diwaluku, dan lain-lain. Sebagai penyubur, umumnya digunakan pupuk kandang. Selain bertani padi, dewasa ini sebagian besar penduduk juga lebih menekuni produksi barang handicrafts, terutama karena semakin tingginya arus wisatawan mancanegara yang berkunjung ke perkampungan mereka. Barang-barang tersebut antara lain anyaman udang-udangan, tas tangan dan barang-barang kebutuhan local lainnya, seperti bakul (boboko), kukusan (aseupan), kipas, tampah (nyiru), dan lain-lain. Pola pemukiman

Kampung Naga merupakan pola mengelompok yang disesuaikan dengan keadaan tanah yang ada dengan sebuah lahan kosong lapang di tengah-tengah kampung. Pola perkampungan seperti Kampung Naga bisa jadi merupakan prototype dari pola perkampungan masyarakat Sunda, walaupun di sana sini terjadi perubahan. Adanya kolam, leuit, pancuran, saung lisung, rumah kuncen, bale, rumah suci, dan sebagainya, menunjukkan ciri-ciri pola perkampungan Sunda.

Demikian juga dengan bentuk rumahnya . Jika dicermati dengan seksama, masyarakat Kampung Naga membagi peruntukan lahan ke dalam tiga kawasan, yaitu:

1. Kawasan suci Kawasan suci adalah sebuah bukit kecil di sebelah barat pemukiman yang disebut Bukit Naga serta areal hutan lindung (leuweung larangan) persis di tikungan tapal kuda di timur dan barat Sungai Ciwulan. Sebagaimana hutan lindung, Bukit Naga juga sebuah hutan, berupa semak belukar yang ditumbuhi pohon-pohon kecil dan sedang, dan dianggap hutan tutupan (leuweung tutupan atau leuweung karamat). Dalam hutan di Bukit Naga inilah ditempatkan tanah pekuburan masyarakat Kampung Naga, termasuk di dalamnya makam para uyut

2. Kawasan bersih Kawasan bersih bias diartikan sebagai kawasan bebas dari benda-benda yang dapat mengotori kampung. Baik dari sampah rumah tangga maupun kotoran hewan, seperti kambing, sapi atau kerbau, terutama anjing. Kawasan ini berada dalam areal pagar kandang jaga. Di dalam kawasan bersih, selain rumah, juga sebagai kawasan tempat berdirinya bumi ageung, masjid, leuit, dan patemon.
3. Kawasan kotor Dimaksud kawasan kotor adalah kawasan yang peruntukkannya sebagai kawasan kelengkapan hidup lainnya yang tidak perlu dibersihkan setiap saat. Kawasan ini permukaan tanahnya lebih rendah dari kawasan pemukiman, terletak bersebelahan dengan Sungai Ciwulan. Di dalam kawasan ini antara lain terdapat pancuran dan sarana MCK, kandang ternak, saung lisung, dan kolam.

MITOS, RITUAL, DAN SENI TRADISI

Sebagai masyarakat yang hidup dalam alam dan kultur Sunda, masyarakat Sunda memiliki pandangan kosmologis yang diwariskan oleh leluhurnya. Secara kultural pandangan kosmologi itu tergambar dalam khazanah mitologisnya.

Dalam sebuah mitologi terdapat suatu pola dasar yang mempersatukan secara harmoni realitas-realitas dan pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Eliade menyebut pola ini sebagai coincidentia oppositorum.10 Sebuah mitos11 akan mengungkapkan struktur keilahian yang dapat mengatasi dan mendamaikan pertentangan secara lebih mendalam dari yang bisa diungkapkan oleh pengalaman rasional. Misalnya, bagaimana dunia yang kosong menjadi berpenghuni, bagaimana situasi yang kacau menjadi teratur, bagaimana yang tidak dapat mati menjadi mati, bagaimana manusia yang semula hanya sepasang menjadi beraneka suku bangsa, bagaimana mahkluk-mahkluk tak berkelamin menjadi lelaki dan perempuan, dan sebagainya. Mitos tidak hanya menceritakan asal mula dunia, binatang, tumbuhan, dan manusia, melainkan juga kejadian-kejadian awal yang menyebabkan manusia menemukan jati dirinya.

Melalui penghayatan sebuah mitos yang dituangkan lewat upacara ritual, seseorang bisa meniru bagaimana mencapai yang illahi dengan ( Pandangan kosmologis merupakan upaya pemetaan dan memposisikan diri seseorang atau masyarakat dalam lingkup ruang-waktu yang mengitarinya (Ahmad Gibson Al Bustomi dalam http://g13b.blogdetik.com/, diakses 20 Mei 2008).

Kata mythology dalam bahasa Inggris menunjuk pengertian, baik sebagai studi atas mitos atau isi mitos, maupun bagian tertentu dari sebuah mitos. Eliade, M. 1987. Mitos, Menurut Pemikiran Mircea Eliade.Yogyakarta: Kanisius, hlm. 73. 11 Kata mitos berasal dari bahasa Yunani muthos, yang secara harfiah diartikan sebagai cerita. B. Malinowski membedakan pengertian mitos dari legenda dan dongeng. Legenda lebih sebagai cerita yang diyakini seolah-olah merupakan kenyataan sejarah.

Dongeng mengisahkan peristiwa-peristiwa ajaib tanpa dikaitkan dengan ritus, dan tidak diyakini sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi.

Sementara mitos merupakan pernyataan atas suatu kebenaran tentang realitas asal yang masih dimengerti sebagai pola dan fondasi dari kehidupan primitif (Dhavamony, 1995: 147). berpartisipasi secara simbolis dalam keadaan ketika manusia dicipta dan ditata oleh yang illahi dan adikodrati.

Pada umumnya tingkah laku manusia dapat diamati melalui ritual dan mitos. Ritual merupakan rangsangan bagi lahirnya mitos. Dari mitos kemudian muncul agama, dan agama itu terdiri dari pelaksanaan ritual. Ketika ritual dapat dinilai dengan begitu mudah dari hasil-hasil yang tampak, memang tidak diperlukan mitos.

Namun ketika hasil yang dibayangkan dari ritual tidak begitu jelas terlihat sehingga bila keyakinan terhadap efektivitas ini harus dipertahankan, maka dituntut suatu tipe keyakinan yang lebih kompleks yang hanya dapat disimpulkan melalui mitos.

Secara keseluruhan fungsi mitos adalah mengungkapkan, mengangkat dan merumuskan kepercayaan, melindungi dan memperkuat moralitas, menjamin efisiensi ritus, serta memberi peraturan-peraturan praktis untuk menuntun manusia. Mitos dan agama sebagai satu kesatuan memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial.

A.Mitos

Belum banyak mitos-mitos yang dapat digali dari masyarakat Kampung Naga, karena banyaknya pertabuan yang harus ditaati mereka. Salah satu mitos yang dapat diungkapkan sebagaimana disajikan dalam wacana berikut:

A.1 Mitos asal usul kampung naga Menurut Suharjo,14 penduduk asli Kampung Naga memang orang Sunda yang dulunya sangat sederhana. Tinggal di atas pohon-pohon besar di lereng-lereng Gunung Galunggung. Nenek moyang mereka yang kini dimakamkan di bukit sebelah Barat kampung bernama Sembah Dalem Singaparna. Dinamakan Singaparna karena ia dapat menaklukkan singa yang sedang mengamuk dengan kesaktiannya. Singaparna dikenal sebagai seorang ulama sakti, putra dari Prabu Rajadipuntang, Raja Galunggung terakhir yang menyingkir ke Linggawangi. Ketika itu, Kerajaan Galunggung diserang oleh Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Prabu Surawisesa (1535-1543) karena mereka telah menjadi pemeluk agama Islam, sehingga tidak lagi menjadikan Kerajaan Sunda sebagai pusat. Menghadapi serangan itu, Prabu Rajadipuntang menyelamatkan harta pusaka dan menyerahkannya pada anak bungsunya yang bernama Snigaparana.

Untuk melaksanakan tugas itu Singaparana dibekali ilmu yang membuat dirinya bisa nyumput bumi dina caang (bersembunyi di keramaian).

Eyang Singaparna memiliki enam putra yang kesemuanya diwarisi ilmu linuwih dan meninggal di daerah tempat mereka mengamalkan ilmunya.

A.2 Mitos Ruang dan Waktu Mitos ruang diwujudkan dalam kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh makhluk halus, sehingga dianggap angker (sanget) dan patut diberi sesaji (sesajen) agar penunggu tempat-tempat itu tidak mengganggu mereka. Batas disini bisa ditemukan pada kategori yang berbeda, misalnya sungai, pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, pesawahan dengan selokan, tempat air masuk yang sering disebut dengan huluwotan, dan lereng bukit.16 Selain itu, mayarakat Kampung Naga memiliki mitos waktu.

Waktu-waktu yang disebut palintangan, adalah waktu yang dianggap buruk sehingga tabu untuk melaksanakan suatu ritual, atau pekerjaan-pekerjaan yang amat penting seperti bertani, dan melakukan perjalanan. Pertabuan itu didasari oleh perhitungan dawuh.

B. RITUAL

B.1 Upacara Hajat Sasih Upacara hajat sasih dilaksanakan enam kali dalam setahun, atau masingmasing satu kali dalam enam bulan yang diagungkan dalam agama Islam. Upacara ini merupakan upacara penghormatan terhadap arwah nenek moyang, yang dilaksanakan dalam satu hari tanpa menghentikan jalannya upacara apabila turun hujan, karena hujan dianggap karunia. Setiap bulan pelaksanaan disediakan masingmasing tiga tanggal untuk menjaga kemungkinan tanggal yang telah ditentukan bertepatan dengan upacara lainnya, terutama upacara nyepi. Upacara dimulai pada pukul 09.00 – 16.00 dipimpin oleh kuncen, lebe dan tetua kampung.

Dimulai dengan pembacaan doa bersama, serta bebersih dan ziarah ke makam keramat sebagai inti upacara yang hanya diikuti oleh kaum laki-laki saja. Seluruh peserta upacara mengenakan jubah berwarna putih dari kain belacu atau kaci, sarung pelekat, ikat kepala dari batik (totopong), dan ikat pinggang (beubeulit) dari kain berwarna putih pula. Pakaian upacara ini tidak dipadu dengan perhiasan apapun ataupun alas kaki.

B.2 Upacara Nyepi Upacara nyepi jatuh pada setiap hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Penghormatan masyarakat Kampung Naga terhadap upacara ini sangat tinggi dan dapat menggeser pelaksanaan upacara lainnya. Sebutan upacara nyepi bagi masyarakat Kampung Naga tidak mencerminkan suasana sunyi senyap dan berhenti dari segala kegiatan sehari-hari serta dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat, anak-anak, tua dan muda. Jika dilihat dari inti kegiatan, sebenarnya upacara ini mungkin lebih tepat disebut berpantang, pantang dalam artian benar-benar menghindari perbincangaan mengenai adat istiadat serta asal usul masyarakat Kampung Naga, baik antar sesama anggota masyarakat maupun pengunjung atau tamu asing lainnya.

B.3 Upacara Panen Upacara panen merupakan upacara perorangan, artinya jika sebuah keluarga akan memanen hasil sawahnya, maka keluarga tersebut melakukan upacara panen guna menetapkan kapan hari pemanenan bisa dilaksanakan. Pencarian hari panen dilakukan di rumah keluarga yang akan memanen hasil sawahnya, dibawah pimpinan candoli, atau lebih sering oleh kuncen Kampung Naga dibantu oleh lebe dan tetua kampung. Ditentukan melalui rangkaian penghitungan yang disebut palintangan. Setelah pihak keluarga mendapatkan hari baiknya, maka acara panen di sawah dilaksanakan, dan kemudian ditutup dengan upacara syukuran kepada Nyi Pohaci Sang Hyang Asri Pada hari panen keluarga yang akan memanen harus menyiapkan syarat-syarat antara lain, sawen, pucuk tanjeur, pucuk gantung (pupuhunan), empos, nasi tumpeng, dan sesajen pelengkap lainnya. Syarat-syarat ini di gunakan dalam pr osesi pengambilan ibu padi.

B.4 Upacara Lingkaran hidup (life cycle) Dalam masyarakat kita, setiap anak yang akan memasuki satu tahapan baru dalam kehidupannya umumnya melewati pranata sosial atau dalam sebutan lain upacara adat. Demikian pula dengan masyarakat Kampung Naga. Ada dua upacara adat yang bertautan tahapan kehidupan yang hingga kini masih ditaati dan dijalankan dari generasi ke generasi.

Kedua upacara itu sebagai berikut:

B.4.1 Upacara Gusaran Uacara Gusaran atau khitanan pada masyarakat Kampung Naga dilakukan secara massal, artinya setiap anak laki-laki Sa Naga akan disunat dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu pada bulan Rayagung. Prosesi upacara terdiri dari tiga inti rangkaian kegiatan, yaitu gusaran, lekasan, dan wawarian. Namun demikian, jika dicermati, sebenarnya ada sejumlah upacara yang dirangkai menjadi pendahulu upacara gusaran itu sendiri. Rangkaian upacara tersebut (lekasan) melebur dalam upacara gusaran secara keseluruhan dan tidak kalah penting serta menarik untuk disimak, yaitu mendapatkan pasangan, bebersih, pemberian wejangan, diarak keliling kampung, ngala beas, pemotongan rambut, berebut sawer, khitanan dan wawarian

B.4.2 Upacara Perkawinan Secara umum tradisi perkawinan masyarakat Kampung Naga sama dengan tradisi perkawinan menurut adat Sunda. Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih dilengkapi dengan tradisi perkawinan Kampung Naga. Sebelum akad nikah, calon pasangan pengantin terlebih dahulu harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi. Akad nikah dilakukan melalui ijabkabul yang disebut dirapalan. Karena masyarakat Kampung Naga beragama Islam, perkawinan dilakukan di depan penghulu dan dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat oleh petugas pencatat nikah (PPN). Penyelenggaraan upacara perkawinan di Kampung Naga terkesan sederhana. Selain karena pertimbangan ekonomi, lahan tempat penyelenggaraan juga terbatas sehingga undangan hanya berkisar pada keluarga mempelai. Sebelum melaksanakan upacara perkawinan, persiapan berupa tahapan yang tidak boleh dilewatkan menurut adat adalah, yaitu menentukan hari baik, melakukan upacara seserahan, melakukan upacara ngeuyeuk seureuh dan, upacara perkawinan

C. SENI TRADISI

C.1 Terbang gembrung Masuknya terbangan atau terbang gembrung sebagai seni tradisi Kampung Naga diduga berkaitan erat dengan penyebaran Islam di Tanah Sunda. Terbang gembrung hampir mirip dengan tagonian yang banyak dijumpai di daerah-daerah pusat penyebaran Islam. Bedanya, bentuk dan ukuran terbang gembrung di Kampung Naga lebih besar dan irama pukulannya lebih sederhana. Terbang Gembrung adalah alat musik tradisional yang disajikan dalam bentuk nyanyi. Bentuknya agak berbeda dengan terbangan yang biasa dilihat di luar Kampung Naga. Terbangan di Kampung Naga berjumlah empat, tidak ceper atau tipis, tapi agak bulat hampir menyerupai dogdog. Terbang kesatu (tingting) berukuran lebih kecil dari terbang kedua (kemprang), terbang kedua lebih kecil dari terbang ketiga (bangpak), dan terbang ketiga lebih kecil dari terbang keempat (brungbrung). Terbang kedua dan ketiga baisanya disatukan dengan kayu penyambung sehingga dapat dimainkan oleh seorang pemain. Terbang gembrung biasanya dimainkan oleh kaum laki-laki. Para pemain duduk berjejer sesuai ukuran terbang yang akan dimainkan. Lagu-lagu yang dibawakan menggunakan bahasa Arab berupa pupujian yang mengagungkan kebesaran Tuhan dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.. Nyanyian yang diambil dari kitab suci Al-Qur’an itu, dibawakan bersama-sama dengan iringan pukulan atau bunyi terbang. Pertunjukan terbangan diadakan di dalam ruang Masjid, atau di lapangan terbuka Kampung Naga. Pertunjukkan biasanya dimulai setelah sholat Isya dan berakhir sekiatr pukul 24.00. Selain itu, trebangan juga dipertunjukkan pada perayaan 17 Agustus untuk mengiringi jempana18 bersamasama dengan angklung

C.2 Angklung
Bentuk angklungdi Kampung Naga tidak jauh berbeda dengan bentuk
angklung di luar Kampung Naga. Bedanya hanya dalam ukuran. Angklung Kampung
Naga berukuran lebih besar, terbuat dari beberapa ruas bambu.
Seperangkat angklung Kampung Naga terdiri dari empat angklung dengan
ukuran berbeda dari yang paling kecil sampai ke angklung yang paling besar. Cara
memainkannya dengan menggoyang-goyangkan instrumen bambu tersebut, dan
setiap unit angklung memiliki nada suara berbeda.
Dalam fungsinya sebagai alat hiburan, angklung digunakan untuk mengiringi
jempana pada perayaan 17 Agustus, dan mengiringi peserta upacara gusaran.
Sebagai tradisi menghormati Nyi Pohaci, angklung dibunyikan untuk mengiringi
hasil panen (padi) dari sawah ke kampung. Biasanya angklung dimainkan oleh laki-
laki, meskipun secara adat wanita pun boleh memainkan alat ini. Namun karena
bentuknya besar sehingga berat, laki dianggap lebih mampu memainkannya.

C.3 Beluk dan Rengkong
Beluk dan Rengkong merupakan dua jenis kesenian yang sudah ajrang
dijumpai. Seni Beluk merupakan salah satu tembang Sunda yang banyak
menggunakan nada-nada tinggi. Pemainnya terdiri dari empat orang atau lebih, yang
secara bergiliran menyanyikan syair dari wawacan. Seni beluk biasanya digelar
pada malam sebelum berangkat tidur bertempat di rumah tetangga atau keluarga
yang baru melahirkan. Di bawah temaramnya sinar lampu teplok, beluk dinyanyikan
di ruang depan (tepas imah). Pemain atau pendengar duduk santai mengikuti acara
itu. Lagu-lagu yang ditembangkan berasa l dari pupuh seperti kinanti,
asmarandana, sinom, durma dan sebagainya yang disampaikan dengan
membawakan kisah-kisah yang sumbernya diambil dari wawacan.
Dalam hal pemain tidak bisa membaca, juru ilo membantu pemain itu dengan
membacakan satu pupuh hingga selesai, baru kemudian ditembangkan. Sebagai
contoh adalah pupuh kinanti berikut, yang diajarkan di SR (sekarang SD), dan sangat
populer di era tahun 1950-1960an. Pupuh ini mengisahkan seekor kelelawar yang
diibaratkan anak kecil. Setiap malam kelelawar ini melayang-layang mencari buahbuahan
yang sudah matang, atau apa saja yang berhasil ditemukannya

Budak leutik bisa ngapu(u)ng
Babakuna unggal peut(i)ng
Kalayang kakalayang(an)
Neangan nu amis-am(i)s
Sarupaning bubuah(a)n
Naon wae nu kapangg(i)h.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: